jagalah hati kita

Senin, 08 Desember 2008

Suatu hari, seorang Raja yang sangat mulia dan berkuasa memanggil pangeran dan putri ke hadapanNya. Mereka adalah anak-anak kesayangan-Nya. Raja memberi mereka masing-masing sebuah harta yang teramat berharga, sambil berpesan, "Pangeran, Putri, ini adalah harta-Ku yang Kupercayakan kepadamu. Aku hanya menitipkannya kepadamu. Kamu harus menjaganya dengan baik. Suatu saat nanti, Aku akan memberikannya kepada Pangeran dan Putri yang setia, yang kelak akan menjadi pasangan kalian."

Demikianlah, pangeran dan putri masing-masing memegang sebuah harta yang teramat berharga. Mereka m
enjaganya dengan hati-hati sambil menanti hari dimana pangeran dan putrti yang akan menjadi pasangan mereka tiba untuk menerima harta tersebut.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Mereka mulai bosan menjaganya. Harta itu mulai berlumut dan berkarat. Beberapa tahun kemudian, berbagai pikiran mulai berkecamuk dalam kepala pangeran dan putri.

Pangeran berpikir, "Apakah putri yang baik dan setia untukku itu bernar ada? Toh, perempuan-perempuan di sekitarku juga cantik-cantik. Memang mereka penuh luka dan cacat sana-sini, mereka juga bukan putri. Tapi sayang sekali kalau harta ini mubazir. Lebih baik kuberikan saja kepada mereka."

Putri berpikir, "Apakah pangeran yang baik dan setia untukku itu benar ada? Bagaimana kalau Raja tidak pernah menemukannya? Bagaimana kalau ia tidak mau menjemputku? Pada siapa harta ini harus diberi
kan? Apakah aku harus sendirian menjaga harta ini hingga tua nanti? Apa salahnya kuberikan pada siapa saja yang mau? Daripada aku sendiri."

Demikianlah, pangeran dan putri membagi-bagikan hartanya ke sembarang orang. Ternyata mereka yang menerima harta itu tidak menghargainya. Harta itu diludahi dan diinjak-injak. Hingga akhirnya Raja memanggil pangeran dan putri kembali untuk memperlihatkan harta mereka.

Harta-harta mereka telah menjadi onggokan sampah busuk.

Raja menegur mereka, "Harta itu milik-Ku. Mengapa kalian tidak menjaganya baik-baik? Apa yang akan kalian be
rikan jika pangeran dan putri pasangan kalian tiba dan meminta harta hak mereka?"

Pangeran dan putri mencoba membela diri, "Apakah mereka benar ada? Kami mencoba membagi-bagikannya tapi tidak ada yang menghargainya. Apa akan ada orang yang menghargainya?"

Raja menatap mereka tajam, "Harta itu milik-Ku. Akan kuberikan kepada siapa aku berkenan. Tidak akan ada yang mengerti betapa berharganya harta itu selain pangeran dan putri yang telah Kupilih, karena mereka juga anak Raja. Harta itu adalah hak yang Kuberikan kepada mereka. Apa yang akan kalian berikan jika mereka tiba kelak?"

Pangeran dan putri mengakui kesalahan mereka. Raja bermurah hati membersihkan harta mereka, bahkan Ia m
encucinya dengan darah-Nya hingga bersih dan wangi. "Aku bisa memulihkan keadaan harta kalian. Namun, Aku tidak akan mengembalikan kepingan-kepingan harta yang telah kalian bagikan kepada orang-orang lain," kata Raja.

Ya, harta itu telah bersih tetapi tidak lagi lengkap dan hanya harta yang tak lengkap itulah yang bisa mereka berikan kepada pangeran dan putri pasangan mereka kelak.


******


Harta itu adalah hati kita. Bagi Tuhan itu adalah harta yang sangat berharga yang Dia berikan pada kita. Tapi seringkali kita memberikan hati kita kepada siapa saja yang ada. Siapa saja yang mungkin terlihat cantik, menarik, baik. Kalau mulai engga suka, kita beralih ke orang lain. Kecintaan pada Tuhan sudah engga jadi syarat utama untuk menemukan kekasih hati. Hanya karena kita sering mempertanyakan apakah benar ada pasangan hidup yang Tuhan berkenan di luar sana?

Ketika kita pacaran, kita memberikan harta yang sangat berharga, yaitu hati. Ketika kita pacaran, kita memberikan kepingan hati kita kepada pacar kita. Waktu kita berantem, mungkin hati kita terluka. Ketika kita diduain, mungkin hati kita diinjak-injak. Ketika kekudusan kita dilanggar, mungkin hati kita diludahi. Semakin banyak pacaran dengan orang yang salah, semakin banyak keping-keping hati kita yang rusak berantakan.

Ingatlah, bahwa hati kita adalah milik Tuhan. Suatu hari nanti, ketika kita mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan, Ia akan memberikan hati kita kepada istri atau suami kita. Akankah kita memberikan hati yang telah hancur kepada suami dan istri masa depan kita? Keping-keping yang telah kita bagi-bagikan dengan ceroboh engga akan kembali lagi, dan tinggallah hati kita yang engga utuh buat suami dan istri masa depan kita.

Guyz... Ingatlah bahwa kita adalah anak-anak Raja dan tentunya kita cuma pantas berdampingan dengan anak-anak Raja juga, karena hanya anak-anak Raja yang mengerti betapa berharganya hati kita dan betapa mulianya sang Pemberi Hati.


Diambil dari Shining Star bulan Desember 2008.

5 komentar:

Anonim at: 8 Desember 2008 pukul 12.40 mengatakan...

ceritanya bagus.

Anonim at: 8 Desember 2008 pukul 17.30 mengatakan...

mudah2an hati saya selamanya utuh buat suami saya.....aminnn

{ Isyana } at: 9 Desember 2008 pukul 08.19 mengatakan...

terharu...artikelnya dimasukin blog..
itu hasil perenungan stelah baca artikel Grace Suryani dan denger sharing dari senior di kampus.
Kadang kita dengan mudahnya cari pacar dan sembarangan memberi bagian-bagian hati kita krn ga yakin kalo Tuhan bner-bener menyediakan yang terbaik di luar sana. Too bad...

{ Bubble-pinkz } at: 9 Desember 2008 pukul 11.22 mengatakan...

Lu yg nulis yach din..?? Tulisannya bagus makanya gua masukin... Maaf yach kalo ada yg gua edit dikit.. hehehhehe...

Anonim at: 10 Desember 2008 pukul 18.03 mengatakan...

Ceritamu menginspirasiku...!

Salam Kenal!

 
 

© 2010 warna-warni diriku, Design by DzigNine
In collaboration with Breaking News, Trucks, SUV